Belajar keras, belajar cermat dan belajar tuntas

JIWA PEJUANG DARI PELOSOK

Embun pagi serasa menyejukkan jiwa, di kala matahari kan terbit memancarkan cahayanya yang begitu indah menerangi bumi pertiwi.Suara kicauan burung menambah keindahan alam nan permai di tanah subur dan kaya budaya.Disorot dari pesisir timur,tampak sebuah desa yang jauh dari pinggir kota,jauh dari perkembangan zaman yang semakin canggih.

Saat itu mentari menampakkan kehangatan cahayanya,jejak langkah-langkah kaki mulai menghiasi jalan setapak yang sudah mulai tua dan rapuh.Disana tampaklah dua orang bersaudara menyusuri setiap jengkal tanah yang mereka pijaki.Dua orang remaja tersebut bernama Gilang dan Gita.Mereka tinggal sebagai anak yatim piatu di sebuah dusun di daerah terpencil yang jauh dari perkotaan.Rumah yang sederhana,atap dari daun rumbia,dinding rumah yang terbuat dari anyaman bambu,dan lantai yang beralaskan tanah,menjadi tempat tinggal untuk mereka.Bukanlah hal yang mudah hidup sebatang kara tanpa orangtua,namun mereka tidak pernah menyerah dan berputus asa.

Pagi itu tampak cerah,Gilang dan Gita dengan langkah yang begitu semangat, berjalan menuju sekolah yang selama ini menjadi tempat mereka menuntut ilmu.Meskipun jarak rumah dan sekolahnya sangatlah jauh,kira-kira berkisar 5  kilometer jauhnya.Belum lagi medan yang mereka tempuh sangatlah sulit.Dimana mereka harus melewati sungai dan hutan yang memang tidak cukup lebat.Namun mereka berdua tetap semangat.Sekolah yang telah tua,kusam dan rapuh itu,menjadi sekolah satu-satunya yang berada di desa muara yang di beri nama SMU Harapan.Jumlah siswa yang sedikit dan guru pengajar yang sangat minim,tidak menurunkan semangat para siswa yang telah lama mengenyam pendidikan disekolah SMU harapan tersebut.Meskipun sempat di gadang-gadang bahwa sekolah itu akan di tutup oleh pemerintah,karna tidak memenuhi standar sebagai sekolah yang layak,namun para siswa tetap bertahan dan tetap ingin bersekolah di tempat itu.

Ketika Gilang dan Gita sampai di sekolah,mereka berdua bergegas menyiapkan peralatan untuk Upacara Bendera.Meskipun sekolah mereka hanya menampung siswa sebanyak satu kelas dengan jumlah siswa sekitar 12 orang,namun dua orang bersaudara ini tampak semangat untuk melaksanankan upacara bendera pada pagi itu.

Gilang menuju lemari tua,dan membuka pintu lemari tersebut,mengambil selembar kain merah putih yang siap untuk dikibarkan.

“ Dulu..betapa susahnya para pejuang untuk mempertahankanmu,,hanya untuk melihatmu berkibar di atas puncak tertinggi sebagai tanda kebebasan.Kini aku sebagai penerus bangsa akan menjagamu dan akan terus membuatmu berkibar menyalakan api semangat perjuangan.” Kata gilang dalam hati,saat menatap bendera yang sedang ia pegang,sebelum akhirnya dia bergegas keluar.

Upacara bendera pagi itu sangat hikmat,meskipun hanya dilaksanakan di sebuah sekolah yang kecil,tua dan rapuh.Angin yang berhembus menambah keindahan bendera yang berkibar dengan kokoh meskipun hanya diikat di ujung sebuah batang bambu.

Setelah upacara bendera pagi itu dilaksanankan,semua siswa bergegas kembali kekelas untuk menantikan pelajaran pertama yang akan berlangsung.

 

Diperjalanan pulang, Gilang dan Gita berbincang-bincang seraya untuk menghilangkan lelah dan penat.

“kak..enggak terasa ya.. udah 73 tahun Indonesia merdeka dari penjajahan,rasanya sekarang ini kitalah yang harus tetap mempertahankan persatuan bangsa agar tidak mudah terpecah belah oleh keadaan yang semakin lama,semakin tergoyahkan.”ujar Gita kepada Gilang saat sedang dalam perjalanan pulang.

 

Ia ingin menyuarakan suara hatinya,yang terus ingin membela dan mempertahankan Negara.Meskipun usianya yang masih 16 tahun,namun semangat perjuangannya sudah sangat tinggi.

“Ia nih,sudah sepatutnya kita sebagai anak bangsa,meneruskan cita-cita para pahlawan yang telah gugur di medan peperangan agar perjuangan mereka tidak sia-sia”Balas sang kakak ,dengan mengepalkan tangannya kedepan wajahnya,menandakan semangatnya yang sangat tinggi.

“Meskipun kita ini tinggal di pedalaman yang jauh dari perkotaan,dan bahkan tak punya orang tua,kita harus terus semangat dan jangan pernah putus asa akan keadaan” Sambungnya sambil memberikan semangat kepada Gita.

“Aku juga sependapat sama kakak,belum lagi kita ini hanyalah orang biasa yang tak punya apa-apa.Namun tidak menjadi alasan kita untuk patah semangat.Pahlawan dulu aja tidak pernah mundur dalam peperangan melawan penjajah yang begitu kejam.Apalagi kita yang saat ini telah merdeka,dan bebas dari belenggu penjajahan.Seharusnya kita mensyukurinya dan tetap memperjuangkannya” Kata Gita yang juga tak kalah semangatnya.

“Makanya itu,kita harus belajar dengan giat,agar kita bisa menjadi anak yang berprestasi,dan membanggakan bangsa terlebih daerah kita ini.” Ucap Gilang.

“Tapi kak….” Gita mengeluh.

“Tapi kenapa?” Tanya Gilang yang penasaran akan perkataan adiknya yang terhenti.

“Tapi…orang-orang didesa kita aja,tidak setuju kalau kita bersekolah.Desa kitakan,desa yang jauh dari perkotaan.Jangankan kota,sekolah saja jaraknya sangat jauh dari sini.Kalau kita mau sekolah,kita harus menempuh jarak sekitar 5 kilometer.Jadinya,karna hal itu  menurut mereka tidak bersekolah pun,tidak menjadi masalah.Apalagi anak perempuan di desa kita dilarang bersekolah.Dan menurut mereka perempuan itu hanya untuk bekerja diladang dan mengurus dapur.” Ujarnya,mengungkapkan keresahannya,yang juga menyangkut haknya sebagai anak perempuan.

”Aku tau mereka melarang kita bersekolah,bukan karena mereka menganggap kalau sekolah itu tidak penting.Tapi karna jarak sekolah yang sangat jauh dari desa ,membuat mereka khawatir akan keselamatan kita dan anak-anak yang lain.Jadi,mereka berpikir,dari pada pergi kesekolah dengan menempuh jarak yang jauh,yang dapat membahayakan keselamatan,lebih baik mereka tinggal dirumah untuk membantu bekerja diladang atau setidaknya membantu pekerjaan rumah.” Sambungnya kemudian.

“Ia..kakak juga sedih akan hal itu.Jika anak-anak didesa kita tidak bersekolah,maka dapat  membuat mereka tidak akan pernah tau apa-apa.Tanpa ilmu dan pengetahuan,desa kita tidak akan pernah bisa maju dan memiliki pandangan yang luas.” Jawab gilang,dengan wajah yang sedikit murung.

Keduanya diam sejenak,sambil merenung,memikirkan nasib anak-anak di desa mereka yang tidak dapat mengenyam pendidikan di bangku sekolah.Terbesik dipikiran keduanya,untuk dapat membangun desa mereka menjadi desa yang maju dan berpendidikan,agar anak-anak disana  terbebas dari buta huruf,sehingga nantinya bisa melahirkan generasi-generasi muda yang dapat membela dan mengharumkan nama ibu pertiwi.

 

Tenggelam dalam lamunan dan pikiran yang terus membayang,mereka tidak menyadari telah sampai di depan sebuah rumah kecil yang ternyata adalah rumah mereka sendiri.Tanpa disadari,tiba-tiba ada sebuah tangan yang menepuk bahu mereka dari belakang,yang sontak membuat mereka terkejut.

 

Ternyata yang menepuk bahu mereka tersebut adalah Timo.Timo merupakan tetangga mereka sekaligus sahabat terbaik Gilang dan Gita,yang juga sebenarnya sangat ingin bersekolah.Namun kedua orangtuanya tidak mengizinkannya untuk bersekolah, dengan alasan karena sekolah sangat jauh,dan juga tidak ada yang membantu orangtuanya bekerja diladang.Tetapi meskipun tidak bersekolah,setiap sekali dalam seminggu dia datang menemui Gilang dan Gita untuk belajar bersama.Dan sebenarnya,hal inipun dilakukannya hanya saat ada waktu saja,karna dia juga harus membantu kedua orangtuanya bekerja.Timo jugalah yang satu-satunya mendukung Gilang dan Gita untuk tetap bersekolah,setelah sebelumnya mereka berdua telah dilarang untuk bersekolah .Tapi karna semangat yang tidak putus,Gilang dan Gita tetap melanjutkan sekolahnya,karna mereka ingin menggapai mimpi dan harapan yang mereka cita-citakan.Dan karna Gilang dan Gita bersikeras untuk bersekolah maka warga desapun tidak melarang mereka lagi,melainkan hanya menegurnya saja sesekali,untuk mengingatkan keselamatan mereka.

“Ya’ampun aku kirain siapa…” Ucap Gita yang kaget akan kehadiran Timo yang begitu tiba-tiba tanpa disadari.

“Ia nih,bikin kaget aja…” Balas Gilang sambil menepuk bahu Timo.

“Hahahaha……ia,maaf-maaf,cuman bercanda kok” Balas Timo yang masih belum berhenti tertawa.

“Tumben datangnya lebih awal,biasanya agak kesorean….” Tanya Gita,yang menunjukan keheranannya.

“Ia..soalnya Ayah dan Ibuku sedang pergi ke kampung diseberang sungai dan mungkin pulangnya agak kemalaman” Jawabnya dengan nada senang dan ekspresi yang tidak sabar untuk belajar.”Oh ya,hari ini kita belajar tentang apa?” Sambungnya sambil membuka sebuah buku tulis yang dulu di berikan Gilang kepadanya.

“Hmm…..bagaimana kalau kita lanjutkan pelajaran kemarin saja..?” Gilang balik bertanya.

“Ia,pelajaran kemarinkan belum selesai semua,gara-gara kamu dicari oleh ibumu..dan disuruh untuk cepat pulang.” Sambung Gita.

“Betul juga…..kita bahas yang itu saja…. Lagi pula aku tidak mau ketinggalan pelajaran.” Balas Timo dengan nada semangat dan tak sabaran.

 

Sungguh disayangkan anak serajin dan sepintar Timo tidak diizinkan untuk bersekolah.Jelas-jelas dengan bersekolah dia bisa mendapat pengetahuan yang lebih dan bisa mendapatkan masa depan yang cerah.Anak di kota saja belum tentu bisa sesemangat Timo.Sangat disayangkan bila ada anak diluar sana,yang mampu bersekolah namun menyia-nyiakannya dan tidak mempergunakan kesempatan dengan sebaik mungkin.

 

Pada saat itu mereka belajar dengan begitu semangat.Dan terlihat dari wajah mereka ketekunan dan harapan yang sangat besar untuk menggapai cita-cita yang mereka impikan.Hingga matahari terbenam,akhirnya Timo pun berpamitan pulang kerumah sebelum orangtuanya pulang dan menanyakan keberadaannya.

 

Dimalam itu banyak  bintang bertaburan dilangit,Gilang dan Gita berada diluar seraya memanggang ubi  sebagai makan malam mereka.Dan sambil menunggu ubi yang mereka panggang masak,mereka memandang kelangit dan melihat bintang yang sedang memancarkan cahayanya.Keduanya terdiam sejenak,seolah-olah sedang memikirkan sesuatu yang dalam dan bermakna.Tiba-tiba terdengar suara isak tangis kecil.

 

 

Gilang memalingkan wajahnya melihat Gita, “Gita kenapa kamu menagis…??” Tanya Gilang sambil mendekati Gita,dan ingin mengetahui apa yang dipikirkan adiknya tersebut,sehingga membuatnya menangis.

Dengan suara tersedu-sedu,Gita mencoba menjawab pertanyaan  kakaknya “Aku sedang  memandangi bintang yang indah disana” ujarnya.

Gilang tau bahwa adiknya sedang bersedih memikirkan sesuatu “Kamu sedang memikirkan apa?” Gilang bertanya dengan lembut,untuk bisa mengetahui isi hati adiknya tersebut.

“Kakak……” Dengan suara tangis yang semakin keras “Aku rindu ayah,aku rindu ibu….”

“Hmm….kakak juga sama sepertimu…” Mencoba  menahan air mata,dan memahami adiknya “Tapi…..sudahlah jangan menangis,ayah dan ibu disana juga merindukan kita,mereka selalu bersama kita dan menjaga kita.Kamu jangan menangis,itu akan membuat ayah dan ibu sedih dan tidak tenang disana….” Mencoba  menenangkan adiknya yang masih menangis.

“Betapa sepinya kita disini tanpa orangtua….Hidup sendiri………” dengan suara terbata-bata Gita tak kuasa menahan tangisannya,hingga akhirnya Gilang pun ikut merasa sedih dan meneteskan air mata.

“Sudahlah kamu tidak usah sedih…lagi pula kamu disini tidak sendirian…kan masih ada kakak disini yang selalu menjagamu.” Ucapnya sambil mencoba menutupi kesedihannya.

”Kamu jangan putus asa begitu,ingat apa yang dipesankan ayah dan ibu dulu sebelum mereka pergi….Mereka berkata bahwa kita harus bisa hidup mandiri dan jangan menyerah pada keadaan.Apapun rintangan yang kita hadapi,kita harus melewatinya…Dan kita juga jangan pernah putus asa dan harus selalu berjuang…..” Ucap Gilang kepada adiknya,sambil mengusap air mata dipipi adiknya tersebut.

Gilang memeluk adiknya dan mengusap kepala adiknya dengan lembut,sebagai tanda kasih sayangnya dan tanggung jawabnya.Ia tidak ingin adiknya merasa sedih dan putus asa.Meskipun sebenarnya,Gilang merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan Gita,namun dia mencoba untuk tetap tegar dan sabar,serta selalu menyemangati adiknya agar tidak berputus asa.Dia juga tau bahwa ia memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga adik satu-satunya ini.Sebab hanya Gitalah satu-satunya keluarga yang ia miliki saat ini.Ia akan bekerja keras untuk menghidupi dia dan adiknya,sebagai bentuk tanggungjawabnya yang harus ia penuhi.Gilang tidak ingin terlihat lemah dihadapan Gita,karna itu akan berpengaruh pada Gita dan akan membuat Gita  patah semangat dan putus  asa.

Malam itu setelah mereka berdua selesai makan,mereka bergegas masuk kedalam rumah,dan mereka berdoa kepada Tuhan sebelum akhirnya mereka beranjak tidur.

 

Keesokan harinya mereka bangun  pukul 03 subuh,mereka bekerja menyiapkan sarapan pagi,membereskan rumah,mandi,dan berdoa sebelum akhirnya pukul 05.00 pagi,  mereka sudah berangkat dari rumah menuju sekolah.Jarak sekolah yang jauhnya sekitar 5 kilometer,mengharuskan mereka untuk berangkat lebih cepat agar bisa sampai disekolah dengan tepat waktu.Meskipun jauh dan banyak halangan yang dilalui dalam perjalanan,mereka tetap semangat dan tak pernah putus asa.Dalam benaknya hanya ingin bersekolah,agar bisa menggapai cita-cita,dan bisa membaawa bangga nama keluarga,serta bisa mengubah pandangan orang didusun tempat tinggal mereka, bahwa pendidikan adalah  hal penting dan sangat berguna bagi anak-anak di dusun mereka.

 

 

Ketika sampai disekolah,mereka belajar dengan penuh semangat dan konsentrasi yang penuh.Disekolah juga,Gilang dan Gita adalah murid teladan yang sangat disenangi guru dan teman-temannya.Mereka berdua adalah murid terpintar dikelas,dan bukan hanya itu,Gilang dan Gita juga memiliki  sifat yang baik,rajin,patuh,dan suka menolong,serta  merekalah yang juga selalu mengingatkan teman-temannya agar selalu cinta tanah air dan menanamkan sikap solidaritas.

Setelah bel pulang berbunyi,semua siswa beranjak pulang,kecuali Gita dan Gilang yang tinggal sebentar untuk membersihkan kelas.Setelah membersihkan kelas akhirnya mereka berdua pun beranjak pulang kerumah.Ditengah perjalanan,Gilang dan gita menolong seorang kakek yang sudah lanjut  usia,yang mengalami  musibah diperjalanan.Kakek tersebut hampir saja terseret arus sungai yang tak bisa ia lewati.Akhirnya dengan keberanian pun,Gilang menolong kakek tersebut dan membawanya kembali kedaratan.Berkatnya nyawa sang kakek dapat tertolong.Tak tega dengan kondisi sang kakek yang kelihatan lemah,mereka berdua  pergi mengantarkan kakek tersebut sampai dirumah.Karena kasihan,mereka tak tega untuk meninggalkan kakek tersebut dengan kondisi yang lemah.Memang kakek tersebut memiliki  dua orang anak yang juga tinggal bersamanya,namun mereka sedang pergi ke ladang untuk berkebun.Akhirnya Gilang dan Gita menjaga kakek sampai kedua anaknya kembali kerumah.

Matahari hampir tenggelam,akhirnya kedua anak kakek tersebut pulang,dan terkejut melihat kondisi  sang kakek yang masih lemas.Gilang pun menceritakan apa yang telah terjadi,dan akhirnya kedua anak kakek tersebut berterimakasih dan sebagai imbalannya mereka diberi  uang Rp.20.000 dan diberi setengah karung ubi dan jagung. Namun Gilang dan Gita menolaknya karna mereka menolong tanpa pamrih,dan tidak mengharapkan imbalan apapun.Kakek dan kedua anaknya terharu dan kembali mengucapkan terimakasih.Karna sudah lama menjaga sang kakek,mereka tidak langsung diizinkan pulang,mereka diberi makan sebagai pengganjal lapar.Dan setelah selesai,mereka berdua berpamitan dan kembali bergegas untuk pulang kerumah.

 

 

Akhir pekanpun tiba,untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,dua orang bersaudara ini selalu bekerja sebagai buruh serabutan di desa yang jauh dari tempat tinggal mereka.Mereka melakukan apa saja yang disuruh oleh siapapun yang membutuhkan mereka.Baik bekerja sebagai pembersih kebun,mengangkat padi dan hasil ladang,maupun memetik dan mengumpulkan buah kelapa dan kakao.Semua mereka kerjakan dengan sungguh-sungguh agar tidak terjadi kesalahan apapun.Meskipun hanya digaji dengan uang Rp.2.000-Rp.5.000  disetiap pekerjaan yang  mereka lakukan,mereka selalu bersyukur atas setiap apa yang mereka terima dan mereka peroleh.Terkadang jika mereka sedang tidak ada pekerjaan,dengan sukarela mereka mengajari anak-anak kecil disana untuk membaca dan menulis.Sikap mereka ini diterima baik oleh warga ditempat mereka bekerja,dan mereka berduapun senang atas sikap warga yang menerima mereka untuk mengajari anak-anak didusun tersbut.Meskipun tidak diberi upah atas pengajaran yang mereka berikan kepada anak-anak di desa tersebut,mereka tidak kecil hati melainkan terus menyemangati anak-anak disana agar terus giat belajar dan menggapai cita-cita yang mereka impikan.

 

Beberpa bulan berlalu,Gilang dan Gita selalu melakukan aktivitas mereka sehari-hari.Baik itu pergi kesekolah,bekerja diladang,bekerja didesa tetangga,maupun menjadi sukarelawan  dengan mengajari anak-anak di desa lain yang membutuhkan mereka.

 

Leave a Reply

Hubungi Kami

Jl. Karya No. 3 Hiliweto
Nias, Sumatera Utara - 22871
Telp./Fax. : 081397271726
E-mail : admin@sman1gido.sch.id
Website : www.sman1gido.sch.id