Belajar keras, belajar cermat dan belajar tuntas

NASIB BANGSA ADA DI PUNDAKKU

Adi, putra dari seorang pemulung yang bernama Fitri. Fitri seorang janda yang telah ditinggalkan suaminya, karena suaminya telah meninggal dunia, dan pada saat itu Adi masih berumur 2 tahun. Fitri dan putranya hidup bergantung di bawah kolong jembatan dengan sehari-hari mengumpulkan dan menjual barang-barang hasil kutipan mereka dari sampah-sampah di bawah kolong jembatan.

Selain sebagai seorang pemulung, Adi juga merupakan siswa di salah satu SD Negeri 4. Adi anak yang gigih dan tekun. Adi memiliki cita-cita jika suatu hari nanti ia ingin menjadi seorang pengusaha sukses dan bisa menjadi seorang donatur bagi anak-anak kurang mampu yang ingin bersekolah.

Setiap harinya, sepulang sekolah Adi langsung pergi mencari dan mengumpulkan sampah-sampah yang bisa ia jual. Hal ini ia lakukan untuk dapat membantu pembayaran uang sekolahnya. Terkadang seharinya ia hanya mendapatkan Rp.10.000. Bagi Adi dan ibunya, uang ini hanyalah cukup untuk makan sekali saja. Dan terkadang juga jika Adi dan ibunya tidak mendapatkan uang, mereka tidak makan.

Di sebelah tempat tinggal Adi, ada seorang anak yang bernama Rikas. Rikas adalah sahabat baik Adi. Rikas juga ingin seperti Adi yang bisa menikmati yang namanya sekolah. Tapi apa daya, keluarganya tidak seperti keluarga Adi. Orangtua Rikas tidak memperbolehkan Rikas untuk bersekolah dengan alasan tidak punya uang sekolah. Orangtua Rikas memaksakan Rikas untuk bekerja. Melihat kejadian seperti ini, Adi ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Rikas. Adi mencoba membantu Rikas dengan mengajak Rikas belajar bersama. Adi mengajari Rikas sesuai pelajaran yang telah ia terima dari sekolahnya.

Setiap malam sebelum tidur Rikas selalu mengunjungi Adi. Dia selalu curhat dan bercerita tentang isi hatinya kepada Adi. Baginya, Adi sudah seperti kakaknya sendiri. Sehingga ia tidak sungkan untuk menceritakan kisah hidupnya kepada Adi.

Adi disekolahnya sangatlah rajin. Ia sungguh-sungguh untuk belajar. Ia tidak ingin masa depannya tidak cerah. Ia mau menyelesaikan pendidikan sampai ke jenjang yang tertinggi. Ia belajar dari kehidupan Rikas yang tidak dapat bersekolah. Itulah alasan mengapa ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada.

Menjelang Ujian Nasional, Ibu Adi tidak mengizinkan Adi untuk mengikutinya untuk memulung. Ibunya ingin agar Adi memiliki waktu untuk belajar. Meskipun dengan rasa tidak tega,karena tidak bisa menemani sang ibu memulung di jalanan, maka Adi pun terpaksa mengiyakan perkataan ibunya.

Sepulang sekolah, mempersiapkan diri dengan belajar. Tidak lupa ia juga tetap berdoa. Saat waktu istirahat, Adi menggunakan waktu istrahatnya untuk membahas dan mengerjakan soal-soal yang telah diberikan oleh gurunya kepadanya. Dia pun sering bertanya kepada gurunya tentang soal-soal yang tidak ia mengerti.

Ujian Nasional pun tiba. Ini adalah ujian terakhir yang akan dihadapi oleh Adi sebelum meninggalkan SD. Adi mengikuti ujian selama 4 hari. Adi pun telah siap untuk menghadapi ujian ini. Karena ia telah mempersiapkan diri jauh-jauh hari sebelum ujian.   Soal pun dibagikan. Adi dengan sukacita dan tanpa beban sedikitpun menerima soal dan mengerjakan soal-soal tersebut. Ia yakin 100 persen pada jawabannya karena ia sudah belajar.

Ujian Nasional pun selesai, dan tiba saatnya pengumuman kelulusan. Adi dengan raut wajah tegang yang ditemani oleh ibunya datang mengahadiri pengumuman kelulusan. Akhirnya, setelah menunggu beberapa jam, tibalah pada hasil ujian dan kelulusan. Adi, menerima hasil dengan baik. Ia dinyatakan lulus dan menjadi siswa dengan nilai ujian tertinggi diantara teman-temannya. Safitri pun bangga terhadap Adi. Usahanya belajar selama ini tidak sia-sia. Adi pun segera memberitahukan kelulusannya kepada Rikas. Rikas pun terkejut mendengar pernyataan Adi. Rikas tidak menyangka Adi dapat melakukan itu. Namun, Rikas tetap bangga dan beruntung punya teman seperti Adi.

Waktu terus berjalan, kini Adi duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama(SMP). Adi sekolah di SMP Matahari Raya. Itu adalah sekolah yang paling favorit di kota Adi. SMP  ini dekat dengan tempat tinggal Adi. Adi setiap hari pergi dan pulang sekolah berjalan kaki bersama teman-temannya. Di SMP, prestasi tetap diraih oleh Adi. Walaupun masih murid baru di SMP-nya, Adi dipilih oleh gurunya untuk mengikuti Olimpiade tingkat kota. Adi pun mampu merebut peringkat 2. Adi tidak menyianyiakan kesempatan yang telah diberikan kepadanya. Gurun-guru disekolah Adi pun bangga dengan apa yang dilakukan oleh Adi. Karena kepintarannya, akhirnya guru-guru langsung mendaftarkan Adi sebagai salah satu siswa yang layak mendapatkan atau memperoleh beasiswa, ditambah mengingat Adi juga salah satu murid yang kurang mampu.

Suatu pagi, Adi pergi ke sekolah. Bunyi bel pun terdengar, akhirnya Adi masuk ke dalam kelasnya. Pada jam istirahat, tiba-tiba datang seorang guru memanggil Adi agar ia segera menemui ibu kepala sekolahnya. Di perjalanan menuju kantor kepala sekolah, Adi berpikir-pikir dan bertanya dalam hati mengapa ia dipanggil. Apakah karena sebuah kesalahan, kemudian dia berpikir dia tidak pernah melakukan kesalahan di sekolah dari sejak awal ia masuk sampai pada detik ia di panggil di ruang kepala sekolah. Setibanya di ruang kepala sekolah, ia merasa kaget. Ternyata Adi dipanggil oleh kepala sekolah karena ia mendapatkan beasiswa. Dengan kata lain, Adi bebas dari pungutan uang sekolah selama satu tahun. Mendengar hal itu, Adi langsung tidak sabar ingin memberitahukan hal ini kepada ibunya. Adi pun bergegas lari pulang ke gubuknya. Sesampainya di gubuk, Adi langsung memberitahukan hal ini kepada ibunya. Sang ibupun menitikan air mata, menandakan bahwa ia sangat senang dan bangga memiliki anak seperti Adi. Ternyata hal ini telah didengar oleh Rikas. Rikas sempat mendengar percakapan antara Adi dan ibunya. Melihat hal itu, Rikas semakin bersedih hati dan bersembunyi di balik sebuah tiang jembatan dan ia mulai pesimis bahwa hidupnya tidak akan pernah bisa menjadi orang sukses. Ia pun mulai merasa iri dan membanding-bandingkan diri dengan Adi. Ia pun menangis. Tiba-tiba Adi datang menghampiri dirinya. Adi berusaha menghibur Rikas, dan Rikas pun berhenti menangis. Adi berjanji suatu hari nanti jika Adi berhasil ia akan membantu Rikas.

Saat ini Adi fokus untuk mencalonkan diri menjadi ketua OSIS di SMP Matahari Raya. Adi sengaja ingin menjadi ketua OSIS karena ia ingin mencari pengalaman serta merasakan bagaimana memimpin suatu organisasi. Adi tidak sendirian. Ia memiliki pesaing untuk menjadi ketua OSIS di sekolahnya. Dia Adalah Marshall. Namun, Adi percaya bahwa dialah yang akan memenangkan pemilihan ketua OSIS di sekolahnya.

Waktu yang ditunggu-tunggu pun telah tiba. Kini saatnya pengumuman ketua OSIS baru di sekolah Adi. Adi dan Marshall deg-degan. Mereka tidak sabar untuk menunggu keputusan yang akan dibacakan oleh guru mereka. ADI dan Marshall berdiri di depan ribuan siswa SMP Mutiara Raya.

Akhirnya, keputusan pun dibacakan. Adi terpilih menjadi ketua OSIS yang baru di sekolahnya. Mendengar keputusan tersebut, Adi melompat bahagia. Dia sangat senang dan terkejut. Marshall kemudian memberikan ucapan selamat kepada Adi sambil memeluk erat Adi. Demikian dengan Adi, ia juga  menyemangati Marshall yang kalah dalam pemilihan ketua Osis. Namun, Marshall otomatis menjadi wakil ketua OSIS. Mereka berdua bekerja sama dalam mewujudkan visi dan misi mereka untuk memajukan OSIS di sekolah mereka.

Ucapan selamat pun datang menghampiri Adi. Mulai dari kepala sekolah sampai abang kakak serta teman teman Adi. Ia pun sangat senang dan menghargai apresiasi tersebut. Ia berjanji untuk melakukan yang terbaik demi kemajuan OSIS dan sekolah Adi. Adi kini memiliki tanggung jawab yang besar dipundaknya. Namun, Adi optimis mampu menghadapi setiap permasalahan yang akan dia hadapi. Ia yakin, teman-temannya juga pasti akan ikut mendukung dan membantu Adi dalam mengemban tugas yang telah dipercayakan kepadanya.

Seiring berjalannya waktu, kini Adi sudah menginjak kelas 3 SMP. Adi pun harus fokus untuk ujian–ujian kedepan. Demikian juga dengan jabatannya sebagai ketua OSIS disekolahnya. Dia akan segera berhenti dan digantikan oleh siswa yang baru. Adi juga memiliki jadwal Belajar Tambahan(BT) disekolahnya. Sebentar lagi ia akan mengakhiri jabatannya sebagai ketua OSIS di sekolahnya. Adi bangga dan bersyukur, selama menjabat sebagai ketua OSIS di sekolahnya, ia mampu menyelesaikan segala tugas yang telah diberikan kepadanya. Sekolah Adi pun kini semakin lebih baik dari sekolah-sekolah lainnya. Itu juga tidak terlepas dari peran Adi sebagai ketua OSIS di sekolahnya.

Kini, saatnya Adi berhenti dari jabatannya sebagai ketua OSIS disekolahnya. OSIS SMP Mutiara Raya mengadakan acara perpisahan sekaligus menyambut pengurus ketua OSIS yang baru. Dalam sebuah kesempatan, Adi diberi kesempatan untuk memberikan kata-kata perpisahan serta kesan dan pesan untuk pengurus OSIS yang baru . Saat menyampaikan pesannya, Adi terlihat sedih, dan tak menahan kuasa untuk menitihkan air matanya. Rasanya ia belum mau untuk berhenti dari OSIS. Namun, ia mampu ditenangkan oleh kepala sekolahnya. Kepala sekolah Adi mengatakan bahwa Adi dapat melanjutkan kariernya di OSIS saat ia nanti duduk di bangku SMA.

Kepala sekolah Adi juga merasa sedih atas hal ini. Adi menurutnya, memiliki jiwa kepemimpinan yang baik dan dapat dicontoh oleh orang banyak. Ia mengatakan bahwa akan sulit mendapatkan orang-orang yang seperti Adi. Namun, kepala sekolah Adi berpesan kepada Adi untuk tetap mempertahankan karakter yang dimilikinya tersebut. Saat itu juga kepala sekolah Adi memberikan cinderamata untuk Adi dan teman-teman pengurus OSIS yang lama. Adi dan teman-temannya pun antusias menerima cinderamata tersebut dan berterima kasih kepada kepala sekolah mereka.

Waktu terus berjalan. Kini Adi kembali bertemu dengan UN di tingkat SMP. Adi sudah mempersiapkan diri jauh-jauh hari dengan belajar dan mengikuti BT di sekolahnya. UN pun diikuti Adi dari hari pertama sampai hari keempat. Ia juga mampu mengikuti dan  menjawab ujiannya dengan baik. Ujian Nasional kini telah selesai diikutinya. Kini saatnya, Adi menjalani libur sebelum menerima hasil kelulusan bulan depan. Adi memiliki waktu libur kurang lebih satu bulan. Waktu libur ini, digunakan Adi untuk kembali membantu ibunya memungut sampah untuk dijual. Adi mulai sekarang meempersiapkan biaya sekolahnya karena ia sebentar lagi akan masuk SMA. Maklum, SMA di kota Adi rata-rata biaya sekolahnya mahal. Dan kalaupun ada sekolah yang biaya sekolahnya murah itu pun tidak dapat dijangkau Adi karena jauh sekali dari rumahnya.

Suatu hari ketika Adi dan ibunya sedang memungut sampah mereka menemukan sebuah amplop berisi dokumen-dokumen penting. Mereka kemudian membuka dokumen tersebut. Mereka mencoba melihat, dokumen itu milik siapa. Ternyata dokumen itu adalah milik seorang pengusaha besar yang bernama Pak Syamsir. Ibu Adi kemudian menyuruh Adi mengembalikan dokumen itu kepada Pak Syamsir. Akan tetapi, Adi tidak berani pergi sendirian, dia takut. Karena tidak berani sendirian, ibu Adi kemudian ikut menemani Adi ke rumah Pak Syamsir sesuai alamat yang tertera pada lembaran depan dokumen itu.

Setelah berkeliling dan menanyakan alamat rumah Pak Syamsir kepada masyarakat sekitar, Adi dan ibunya akhirnya sampai. Mereka kemudian membuka gerbang rumah Pak Syamsir. Selanjutnya, mereka menuju pintu depan rumah Pak Syamsir lalu memencet bel. Setelah itu, keluarlah seorang bapak yang mungkin adalah pemilik dokumen itu. Sebelumnya, bapak itu menanyakan siapa Adi dan ibunya serta tujuan mereka mengunjungi rumahnya. Lalu, Adi menjelaskan siapa mereka dan menjelaskan maksud kedatangan mereka ke rumah pengusaha itu. Setelah itu, Adi menanyakan kepada bapak itu apakah ia bernama Syamsir. Bapak itu pun membenarkan hal itu. Stelah itu, Adi kembali bertanya, apakah Pak Syamsir benar telah kehilangan dokumen-dokumen pentingnya. Lalu bapak itu menjawab bahwa ia sedang mencari dokumennya yang telah hilang. Lalu, Adi menunjukkan dokumen itu di depan Pak Syamsir. Pak Syamsir pun kemudian mengambil dan memeriksa apakah dokumen itu miliknya atau bukan. Setelah memeriksa dan mencek dokumen itu, ternyata dokumen tersebut adalah miliknya. Pak Syamsir kemudian menanyakan bagaimana Adi dan ibunya bisa menemukan dokumennya yang hilang. Ibu Adi pun menjelaskan, bahwa saat mereka sedang memulung, mereka tidak sengaja menemukan dokumen itu di jalan. Mendengar penjelasan tersebut, Pak Syamsir kemudian mengucapkan terima kasih kepada Adi dan ibunya Adi. Pak Syamsir kemudian mengatakan apa yang diinginkan oleh Adi dan ibunya sebagai balas budi karena telah menemukan dokumennya. Mereka kemudian mengatakan kepada Pak Syamsir bahwa mereka tidak memerlukan apa-apa. Mereka ikhlas membantu Pak Syamsir. Lalu, Adi dan ibunya pamit meninggalkan rumah Pak Syamsir. Namun, Pak Syamsir menahan mereka dan mengajak mereka berdua untuk diantar kerumah mereka naik mobilnya. Adi dan ibunya pun tidak menolak ajakan bapak itu.

Setibanya di rumah Adi dan ibunya, Pak Syamsir kemudian membuka kaca jendela mobilnya. Pak Syamsir mengamati tempat tinggal Adi dan ibunya. Ia lalu menanyakan kepada Adi dan ibunya, apakah memang benar ini adalah tempat tinggal mereka. Adi dan ibunya pun membenarkan hal itu. Mendengar pernyataan Adi dan ibunya, Ia bertanya dalam hatinya. Ia masih tidak percaya kalau Adi dan ibunya tinggal di tempat seperti itu. Ia menyayangkan mengapa orang yang baik seperti mereka tinggal di tempat yang tidak layak.

Selanjutnya, Adi dan ibunya membuka pintu mobil Pak Syamsir untuk keluar. Pak Syamsir pun ikut keluar dari mobilnya, untuk turun mengantar Adi dan ibunya ke  depan rumah mereka. Adi dan ibunya lalu mengucapkan terima kasih kepada Pak Syamsir karena telah mengantar mereka. Setelah itu, mereka mengajak Pak Syamsir untuk masuk ke dalam rumah. Lalu, ibu Adi menyuruh Adi membuat segelas teh untuk Pak Syamsir. Adi kemudian berjalan ke belakang dan membuat teh untuk Pak Syamsir sambil ibunya menyiapkan tikar untuk tempat duduk mereka. Setelah semua telah selesai, Adi, Pak Syamsir, dan ibunya Adi duduk sama-sama sambil berbincang-bincang. Di tengah perbincangan, Pak Syamsir menawarkan kepada Adi dan ibunya untuk tinggal di rumah kontrakan miliknya. Memang, Pak Syamsir memiliki rumah kontrakan. Mendengar hal itu, Ibu Adi kemudian menjawab bahwa mereka sebenarnya mau tinggal di situ. Namun, mereka tidak memiliki uang untuk membayar kontrakan itu. Pak Syamsir lalu menjelaskan kalau Adi dan ibunya tidak perlu membayar uang kontrakan itu. Pak Syamsir memberikannya secara gratis kepada mereka sebagai balas budi karena telah menemukan dokumen penting Pak Syamsir. Mendengar pernyataan Pak Syamsir, Adi dan ibunya kemudian mengucapkan terima kasih kembali kepada Pak Syamsir.

Setelah itu, Pak Syamsir menanyakan tentang pendidikan Adi. Ia menanyakan kepada Adi kalau ia sudah kelas berapa. Kemudian, Adi menjawab bahwa ia akan masuk SMA. Ia baru saja menyelesaikan Ujian Nasional di SMP nya kurang lebih dua minggu yang lalu. Dan, akan menerima pengumuman kelulusan minggu depan. Selanjutnya, Pak Syamsir menanyakan kepada Adi, dimana ia akan SMA. Adi terdiam sejenak. Ia kemudian menjawab bahwa ia belum menentukan SMA pilihannya. Alasannya karena ia terbebani dengan biaya sekolah yang terlalu mahal. Pak Syamsir kemudian mengangguk-angguk. Ia mengerti masalah yang dialami Adi. Lalu, Pak Syamsir kembali menanyakan SMA mana yang disukai dan dipilih oleh Adi. Lalu Adi menjawab bahwa ia ingin sekolah di SMA Negeri 1. Setelah menanyakan dan mendengar jawaban dari Adi, Pak Syamsir pun memberikan sebuah kesimpulan. Ia mengatakan kepada Adi bahwa ia akan membantu biaya sekolah Adi di SMA sampai ia lulus. Adi kemudian memastikan hal tersebut. Ia menanyakan kembali apakah Pak Syamsir benar-benar akan membiayai sekolah Adi di SMA sampai tamat. Pak Syamsir pun membenarkan hal itu. Namun, ia memberikan syarat kalau Adi harus sungguh-sungguh belajar dan memperoleh nilai yang tinggi. Adi kemudian menjawab bahwa ia akan menuruti syarat yang di berikan oleh Pak Syamsir.

Setelah lama berbincang-bincang, Pak Syamsir pun pamit kepada Adi dan ibunya. Ia harus kembali ke rumahnya karena ada kepentingan. Adi dan ibunya pun mengantar Pak Syamsir menuju mobilnya. Pak Syamsir akan kembali menemui Adi dan ibunya jika ia memiliki waktu kosong. Terkait tentang pindahnya Adi dan ibunya ke kontrakan Pak Syamsir, ia sudah mengerahkan sekelompok orang untuk memindahkan barang-barang mereka ke kontrakan miliknya. Lalu, Pak Syamsir kemudian naik ke mobilnya dan segera pulang kerumahnya.

Setelah kurang lebih 15 menit Pak Syamsir beranjak dari rumah Adi, tiba-tiba datang sebuah truk besar beserta orang-orang di atasnya. Adi kemudian keluar dari rumahnya. Kemudian, ia menghampiri orang-orang yang tadi. Ternyata, orang-orang itu adalah suruhan Pak Syamsir untuk mengangkat dan memindahkan barang-barang Adi dan ibunya ke rumah kontrakan Pak Syamsir. Adi pun segera memberitahukan hal itu kepada ibunya. Ibu Adi kemudian membereskan semua barang-barang mereka untuk diangkat ke atas mobil.

Setelah semua barang-barang Adi dan ibunya dipindahkan ke atas  mobil, mereka segera meninggalkan tempat tinggal mereka yang lama menuju rumah kontrakan Pak Syamsir. Adi dan ibunya merasa lega dan senang karena mereka akan tinggal ditempat yang lebih baik dan nyaman.

Sesampainya di rumah kontrakan, Adi dan ibunya segera turun dari mobil. Ternyata, Pak Syamsir telah menunggu kedatangan mereka sejak awal. Pak Syamsir kemudian menghampiri mereka. Sambil barang- barang diturunkan dan dimasukkan ke dalam rumah, Pak Syamsir menunjukkan bagian-bagian rumah baru Adi dan ibunya. Semua fasilitas yang diperlukan oleh Adi dan ibunya telah disiapkan dan disediakan oleh Pak Syamsir. Adi dan ibunya pun mengucapkan banyak terima kasih kepada Pak Syamsir. Beberapa jam kemudian, akhirnya barang-barang Adi dan ibunya telah selesai diturunkan dari truk. Pak Syamsir pun pamit meninggalkan Adi dan ibu Adi.

Seminggu berlalu, kini saatnya Adi mendengarkan pengumuman kelulusannya di SMP. Ia segera berangkat ke sekolah ditemani oleh ibunya. Mereka berdua jalan kaki saat masih pagi-pagi seklai agar tidak terlambat. Adi pun merasa sangat takut dengan pengumuman ini. Ia masih belum dapat memastikan apakah dia lulus atau tidak. Ibu Adi pun mengatakan kepada Adi untuk tetap santai dan berdoa dalam hati.

Mereka berdua akhirnya sampai. Adi dan ibunya segera menuju ruang pertemuan di sebelah ruang guru. Adi semakin deg-degan. Mereka menunggu acara pengumuman kelulusan dimulai. Setelah kurang lebih 15 menit menunggu, akhirnya acara pun dimulai. Seluruh kursi di ruang pertemuan terisi penuh oleh siswa beserta dengan oraangtua mereka masing-masing. Pengumuman kelulusan pun dibacakan oleh kepala sekolah Adi. Kepala sekolah menyampaikan bahwa seluruh siswa/siswi SMP MAtahari Raya dinyatakan lulus. Sontak, seisi ruang pertemuan bergemuruh. Seluruh siswa/siswi sangat senang dengan hasil ini. Mereka semua memeluk orangtua mereka. Demikian dengan Adi. Ia memeluk erat ibunya sambil menangis. Perasaannya yang tadi khawatir, takut, dan deg-degan, berubah seketika setelah mendengar hasil ini menjadi sukacita dan kebahagiaan bagi Adi. Ia pun tidak lupa untuk bersyukur kepada Tuhan. Kini, Adi resmi memasuki SMA.

Setelah menerima pengumuman ini, Adi segera menyampaikannya kepada Pak Syamsir. Ia pun segera pergi ke rumah Pak Syamsir. Sesampainya di rumah Pak Syamsir, Adi bertemu dengan Pak Syamsir yang sedang menyuci mobilnya di halaman depan rumahnya. Adi kemudian menghampiri Pak Syamsir. Sebelum menyampaikan kelulusannya, Adi terlebih dahulu menyalam Pak Syamsir. Setelah itu, ia memberikan amplop yang berisi surat kelulusan Adi. Menerima amplop itu, Pak Syamsir membuka dan membacanya. Ia kemudian senang dengan kelulusan Adi. Ia pun mengucapkan selamat kepadannya. Pak Syamsir pun tidak lupa dengan janjinya. Ia akan mendaftarkan Adi ke SMA pilihan Adi dan menanggung seluruh biaya sekolah Adi sampai ia tamat.

Waktu terus berjalan. Adi kini duduk di bangku SMA. Ia bersekolah di SMA Negeri 1. Ini adalah sekolah pilihan Adi.  Ia telah didaftarkan oleh Pak Syamsir. Pak Syamsir menepati janji yang pernah ia ucapkan kepada Adi. Adi masih tetap sama seperti saat di SD dan di SMP. Ia mampu merebut hati teman-teman serta guru-gurunya berkat perilaku yang baik serta kelebihannya di bidang ilmu pengetahuan. Ia pun telah memenuhi syarat yang telah diberikan Pak Syamsir kepadanya. Selama duduk di bangku SMA, Adi sudah banyak mengikuti lomba-lomba baik di luar maupun di dalam sekolah. Bukan hanya itu, ia pun meraih banyak prestasi pada setiap lomba-lomba yang diikutinya.

Suatu hari Adi sedang berjalan menuju kantin di sekolahnya. Ia melihat teman-temannya yang lain ramai di depan mading sekolah. Ia pun segera mendekat dan melihat apa yang sedang terjadi. Ternyata, teman-teman Adi sedang melihat brosur beasiswa kuliah di luar negeri yaitu di Amerika Serikat. Adi yang mengetahui hal tersebut kemudian, ikut serta mengamati brosur tersebut dan ingin mendaftarkan diri. Dia kemudian segera mengambil formulir yang sudah disediakan di mading sekolah. Setelah itu, Adi menuju kelasnya kembali untuk segera mengisi formulir tersebut. Adi pun tidak jadi pergi ke kantin.

Sesampainya Adi di kelas, ia kemudian menuju mejanya dan mengmbil pena untuk mengisi formulir tadi. Setelah selesai mengisi formulir, Adi segera menyerahkan formulir tersebut kepada guru yang bersangkutan. Adi berharap ia bisa mendapatkan beasiswa kuliah di Amerika Serikat tersebut. Adi harus menunggu selama 1 minggu untuk mengetahui hasil pengumuman apakah ia terpilih untuk mendapatkan beasiswa tersebut atau tidak.

Seminggu berlalu, waktu yang ditunggu-tunggu Adi pun tiba. Pagi-pagi ia cepat-cepat untuk sampai ke sekolah. Sesampainya di sekolah, Adi segera menuju mading untuk melihat hasil pengumuman. Adi pun harus berdesak-desakkan dengan teman-temannya yang lain. Setelah akhirnya bisa sampai di depan mading, Adi akhirnya dapat melihat hasil pengumuman. Adi pun menerima hasil yang memuaskan. Ia terpilih menjadi salah satu siswa yang berhak mendapatkan beasiswa kuliah di Amerika Serikat. Adi pun sangat senang dan memeluk teman-teman yang ada di sekitarnya. Ia tidak percaya akan hasil yang telah dilihatnya.

Sepulang sekolah, Adi langsung bergegas menuju tempat tinggalnya, di bawah kolong jembatan. Ia ingin menyampaikan kabar gembira ini kepada ibunya. Sesampainya ia di sana ia langsung menghampiri ibunya. Dengan senangnya Adi memberitahukan kabar gembira ini kepada ibunya. Mendengar kabar gembira ini dari Adi, Safitri memeluk Adi dengan erat sambil menangis. Safitri tidak menyangka kalau anaknya mendapat beasiswa kuliah di luar negeri. Ia juga tidak lupa mengingatkan Adi untuk selalu bersyukur kepada Tuhan atas pencapaiannya selama ini.

Di waktu yang bersamaan, Pak Syamsir datang ke rumah Adi dan Ibunya. Pak Syamsir ingin melihat kondisi Adi dan ibunya. Adi pun turut memberitahukan kabar gembira yang telah ia dapatkan kepada Pak Syamsir. Pak Syamsir ikut senang atas kabar gembira yang ia dengar dar Adi. Saat itu juga Pak Syamsir memberitahukan kepada Adi sebuah informasi. Informasi itu adalah lomba tenis meja. Pak Syamsir ingin mengajak Adi untuk mendaftarkan diri pada lomba tersebut. Namun, Adi tidak mau. Alasannya ia tidak bisa bermain tenis meja. Akan tetapi, Adi menjelaskan kepada Pak Syamsir bahwa ia memiliki seorang sahabat yang pandai bermain tenis meja. Dia adalah Rikas. Adi pun mendaftarkan nama Rikas kepada Pak Syamsir.

Setelah itu, Adi segera menuju rumah Rikas. Adi juga ingin memberitahukan kabar ini kepada Rikas. Sesampainya Adi di rumah Rikas, ternyata tidak ada orang di rumahnya. Adi pun segera pulang kembali ke rumahnya. Ditengah perjalanannya menuju rumahnya, Adi  bertemu dengan Rikas di jalan. Rikas sedang bekerja mengumpulkan barang bekas. Adi segera menghampiri Rikas, dan memberitahukan kabar gembira ini. Mendengar kabar ini dari Adi, Rikas mengucapkan selamat kepada Adi. Saat itu juga, Adi memberitahukan kabar gembira untuk Rikas. Adi memberitahukan bahwa ia telah mendaftarkan Rikas untuk mengikuti lomba tenis meja. Mendengar hal itu, Rikas terkejut dan bertanya-tanya. Lalu, Adi menjelaskan kepada Rikas. Rikas memang pandai bermain tenis meja. Sewaktu kecil sampai sekarang ia sering berlatih tenis meja jika ada waktu setelah ia selesai memulung. Namun, Rikas menolak untuk mengikuti lomba itu. Adi pun menanyakan alasan Rikas. Padahal lomba ini bisa menjadi sarana Adi menyalurkan bakatnya. Siapa tau ia bisa menang dan menjuarai lomba itu. Rikas pun menjelaskan alasannya tidak mau ikut. Alasannya ia tidak memiliki baju dan sepatu untuk lomba. Ia hanya memiliki sebuah bet. Adi pun mengerti masalah Rikas. Adi kemudian mengatakan kepada Rikas bahwa masalah baju dan sepatu ia yang akan mengurusnya. Mendengar itu Rikas sangat senang dan memeluk Adi. Ia berterima kasih kepada Adi. Ia mengatakan kepada Adi bahwa Adi adalah sahabat yang sangat baik dan suka membantu.

Waktu terus berjalan. Kini Rikas akan mengikuti lomba tenis meja. Adi pun ikut serta memberikan dukungan kepada Rikas agar ia bisa semangat berlomba. Lawan- demi lawan telah dikalahkan Rikas. Ia pun berhak masuk ke babak final. Adi sangat senang akan hal ini. Ia pun makin semangat memberikan dukungan kepada Rikas.

Babak final pun dimulai. Rikas terlihat tegang dan takut. Satu set berakhir, Rikas tertinggal. Skor sementara 1-0. Adi kemudian menjumpai Rikas. Adi mencoba menyemangati Rikas agar ia bisa bangkit dan bisa menang. Waktu istirahat selesai, pertandingan pun dilanjutkan. Akhirnya Rikas bisa menang dan skor menjadi imbang 1-1.  Kini, tinggal tersisa satu set lagi. Siapa yang akan menang di set ini, ialah yang akan menjadi juara pada lomba ini. Pertandingan pun semakin menegangkan. Set ketiga dimulai. Sebelum bertanding, Adi mengajak Rikas untuk berdoa bersama sejenak. Setelah selesai, Rikas menuju meja pertandingan. Pertandingan pun dimulai. Akhirnya, pertandingan selesai. Rikas memenangkan set ketiga dengan sko 21-11. Ia pun berhak menjadi juara pada lomba ini. Ia  pun bersujud syukur atas hasil ini. Adi pun segera menghampiri Rikas dan menggendong Rikas di atas punggungnya. Tidak lupa Rikas menyalami lawannya di final sambil berfoto bersama.

Kini Rikas menjadi pemain tenis meja terbaik. Setelah memenangkan berbagai lomba, kini ia ikut berlomba di luar negeri yakni di Inggris. Begitu juga dengan Adi yang akan kuliah di Amerika Serikat. Mereka berdua kini sama-sama ke luar negeri untuk mengejar cita-cita mereka. Namun, Mereka telah berjanji, kalau mereka sukses nanti mereka akan pulang kembali ke Indonesia dan bersama kembali.  Mereka akan mengumpulkan anak-anak yang kurang mampu yang mau sekolah seperti mereka dulu untuk disekolahkan.

Adi saat ini berada di Amerika Serikat. Di Amerika, Adi tinggal di asrama. Biaya kehidupannya sehari-hari ditanggung oleh pemerintah Indonesia, karena ia mendapat beasiswa. Adi pun nyaman disana tanpa ada beban. Namun, terkadang teringat di dalam pikirannya ibunya yang telah ia tinggalkan di Indonesia. Namun, ia menjadikan hal tersebut, sebagai motivasinya untuk belajar sungguh hingga kelak dia sukses dan bisa kembali ke Indonesia dan bertemu lagi bersama ibunya.

Adi, disana juga mendapat teman baru. Disana, dia menemukan banyak sekali perbedaan, baik itu budaya, makanan, dan lain sebagainya. Akan tetapi ia mencoba untuk beradaptasi dan menyesuaikan diri disana.

Adi dikampusnya mengambil jurusan Manajemen. Karena Adi ingin menjadi seorang pengusaha. Adi berkuliah di Universitas Madison. Adi memang dari kecil bercita-cita untuk menjadi pengusaha sukses. Jika sukses nanti, Adi ingin membantu anak- anak yang kurang mampu. Ia tidak ingin ada lagi anak-anak di luar sana yang hidup seperti mereka dahulu.

Waktu terus berlalu, Adi memasuki semester 1 di kampusnya. Awal yang melelahkan buat Adi. Ia memiliki jadwal yang padat dalam kuliahnya. Belum lagi urusannya dengan dosennya. Memang masa perkulihan lebih rumit dari masa-masa SD, SMP, maupun SMA. Namun, Adi tidak pantang menyerah. Setiap ia dalam kesusahan ia tetap mengingat pesan ibunya, dan cita-citanya dari awal.

Suatu hari, Adi pergi jalan-jalan ke Pasar Malam di Amerika Serikat. Dia pergi bersama dengan teman asramanya. Sebelum masuk ke gerbang Pasar Malam, tiba-tiba Adi berhenti dan menyuruh teman-temannya yang lain untuk duluan masuk ke dalam. Ternyata, ada seorang anak kecil yang sedang menangis di depan gerbang Pasar Malam tersebut. Adi pun menghampiri anak kecil tersebut. Adi mencoba menenangkannya dan menanyakan mengapa ia menangis. Usut punya usut, akhirnya Adi mengetahui mengapa anak kecil itu menangis. Anak kecil itu ternyata sedih karena tidak bisa masuk ke dalam Pasar Malam. Ia tidak punya uang untuk bisa masuk ke dalam. Anak kecil ini ternyata sama seperti Adi saat masih kecil dulu. Ia hanya seorang pemulung jalanan dan tidak mempunyai orangtua serta tidak punya tempat tinggal.

Lalu, Adi mengangkat anak kecil tersebut untuk berdiri. Dia kemudian menghapus air matanya dan mengajaknya untuk masuk ke dalam Pasar Malam. Anak kecil itu pun tersenyum. Ia kemudian memeluk Adi dan merasa senang.

Setelah itu mereka masuk ke dalam Pasar Malam. Adi mengajak anak kecil itu ke tempat permainan anak-anak. Adi pun tidak segan untuk menjaga dan mendampingi anak kecil itu sampai ia selesai bermain. Adi juga ikut bermain bersamanya. Mereka sangat menikmati permainan dan terlihat akrab sekali walaupun mereka baru mengenal satu sama lain. Dalam permainan lempar bola, anak kecil itu menang dari Adi. Ia pun mendapat hadiah dari pemilik toko permainan itu. Hadiah yang ia dapat ialah mobil-mobilan. Anak kecil itu sangat gembira sekali. Maklum, dia baru pertama kali mendapat mobil-mobilan.

Setelah selesai bermain, Adi mengajak anak kecil itu untuk mencari makanan dan cemilan. Adi mengajak anak kecil itu untuk makan es krim. Anak kecil itu pun mau, dan mereka makan es krim bersama-sama. Saat sedang makan es krim, anak kecil itu menunjuk balon gas. Adi pun mengerti maksudnya, dan langsung membeli balon gas yang diinginkan anak kecil itu.

Bermain sudah, makan es krim sudah. Sekarang Adi mengajak anak kecil itu untuk duduk beristirahat di sebuah kursi di samping yang menjual es krim tadi. Adi kemudian mengajaknya berbicara. Di tengah pembicaraan mereka, anak kecil itu meminta sebuah pena dan selembar kertas. Adi pun memberikannya kepada anak kecil itu. Anak kecil itu kemudian menanyakan apa harapan yang ingin di capai oleh Adi ke depan. Adi kemudian menjawab ia ingin cepat-cepat selesai kuliah dan kembali ke Indonesia dan membantu anak-anak yang kurang mampu untuk disekolahkan di negaranya. Anak kecil itu kemudian menuliskan harapan Adi di lembar belakang kertas itu. Di lembar depan ia menuliskan namanya dan nama Adi. Kemudian, ia menggulung kertas itu lalu mengikatnya ke balon gas. Ia kemudian meminta Adi untuk memegang balon gas itu bersama dengannya. Adi tidak mengerti maksud anak itu. Ia pun mengikuti saja. Anak itu kemudian menghitung 1 sampai 3. Kemudian, mereka sama-sama melepaskan balon gas itu. Balon gas tersebut lalu terbang tinggi di udara.

Setelah melepaskan balon gas, Adi menanyakan maksud dari yang dilakukan anak kecil itu. Anak kecil itu pun menjawab kalau ia bertemu dengan seseorang yang baik hati ia akan menerbangkan sebuah balon berisi kertas harapan atau doa yang diinginkan. Ia kemudian melanjutkan kalau hal tersebut ia peroleh dari ajaran almarhum kedua orangtuanya. Adi kemudian memeluk anak keci itu sambil menangis. Adi teringat kepada ibunya yang ia tinggalkan di Indonesia. Dia juga sedih karena anak kecil itu tidak punya orangtua lagi. Anak kecil itu heran, kenapa Adi menangis. Lalu ia menanyakannya kepada Adi. Namun, Adi menyembunyikan kesedihannya di depan anak kecil itu. Ia tidak ingin anak kecil itu ikut bersedih.

Setelah beberapa jam tidak bersama, teman teman asrama Adi kemudian menemukan Adi sedang bersama anak kecil itu. Mereka kemudian bertanya kepada Adi siapa anak kecil yang sedang bersamanya. Lalu ia menjelaskan kepada mereka dan mereka pun menerima anak kecil itu. Setelah itu mereka pergi bersama-sama mengajak anak kecil tadi untuk bermain lagi di pasar malam. Mereka juga membeli baju, celana, sepatu, dan mainan untuk anak kecil itu.

Setelah kurang lebih dua jam di Pasar Malam, seorang teman asrama Adi mengingatkan mereka untuk pulang kembali ke asrama. Adi pun baru ingat dan lupa untuk pulang ke asrama. Namun, Adi ingat lagi pada anak kecil tadi. Ia tidak ingin meninggalkan anak itu sendirian, karena anak kecil  itu tidak punya tempat tinggal dan tak punya apa-apa. Lalu anak kecil itu pun menyakinkan Adi untuk meninggalkan dirinya. Anak kecil itu mengatakan kepada Adi kalau ia sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu. Adi dan teman-teman Adi juga merasa kasihan dan tersentuh atas apa yang dirasakan anak kecil itu. Namun, mereka juga tidak dapat berbuat apa-apa.

Sebelum meninggalkan anak kecil itu, Adi memeluk anak kecil itu. Adi berpesan kepada anak kecil itu untuk selalu berhati-hati dan tidak melupakan Adi sambil menangis. Sepertinya, Adi sudah menganggap anak kecil itu seperti adiknya sendiri. Melihat hal itu, teman-teman Adi pun ikut sedih dan memeluk anak kecil itu. Lalu salah seorang teman asrama Adi mengajak anak kecil itu untuk berfoto bersama dengan mereka sebagai kenang-kenangan yang tak akan bisa dilupakan.

Setelah itu Adi dan teman-temanya pamit kepada anak kecil itu. Anak kecil itu pun melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan kepada mereka. Namun, baru kira –kira 5 langkah Adi kembali menghampiri anak kecil itu dan memeluknya dengan sangat erat. Tampaknya, Adi belum bisa meninggalkan anak kecil itu. Lalu, teman-teman Adi membujuk Adi untuk segera pergi meninggalkan anak itu. Adi pun akhirnya mau dibujuk. Akan tetapi, sebelum itu ia kemudian membuka jaketnya. Ia lantas memberikan jaketnya kepada anak kecil itu. Anak kecil itupun menerimanya dan memberikan sebuah gelang kepada Adi. Lalu, Adi dan teman-temannya meninggalkan anak kecil itu.

Sore berlalu, malam pun tiba. Adi yang sedang dalam kamarnya masih teringat kepada anak kecil itu. Seorang teman yang sekamar dengan Adi menghampirinya. Dia menanyakan apa yang sedang dipikirkan oleh Adi. Adi pun menjawab dengan jujur apa yang sedang ia alami. Adi mengatakan bahwa ia teringat lagi kepada anak kecil yang di Pasar Malam tadi. Teman Adi kemudian mengatakan kepada Adi bahwa anak itu akan baik-baik saja. Namun, Adi masih cemas dan tidak percaya begitu saja. Lalu, karena Adi masih tidak percaya kepadanya, ia lalu mengajak Adi untuk berdoa bersama dengannya. Ia mengajak Adi untuk mendoakan anak kecil tadi agar selalu dilindungi oleh Tuhan dan supaya ia baik-baik saja. Adi pun mengikuti apa yang dikatakan temannya dan mereka pun berdoa.

Satu hari berlalu. Adi terbangun dari tidurnya. Ia harus kembali belajar seperti biasa dan bergegas pergi ke kampus. Ia kemudian, membersihkan tempat tidurnya dan tidak lupa untuk berdoa. Setelah itu ia mandi dan sarapan pagi. Ia kemudian meninggalkan kamarnya dan segera pergi ke kampusnya bersama teman-teman asramanya.

Waktu terus berjalan. Kini Adi telah memasuki semester 8. Ia akan menyelesaikan pendidikannya di Amerika Serikat. Adi akan menghadapi berbagai macam ujian kedepan. Di semester ini, Adi sungguh-sungguh belajar. Ia tidak mau mendapatkan nilai yang jelek apalagi tidak lulus. Adi pun sadar akan hal itu. Impian sebentar lagi akan tercapai. Ia sebentar lagi akan menjadi seorang pengusaha.

Waktu terus berjalan. Adi kini telah lulus dari kuliahnya dan telah menyandang gelar. Ia pun ingat akan janjinya. Ia akan kembali ke Indonesia, berjumpa kepada ibunya dan Rikas. Demikian juga dengan Rikas. Rikas juga telah kembali ke Indonesia. Ia lebih dulu sampai dari Adi.

Sekarang Adi dan Rikas telah berkumpul kembali. Mereka sekarang sudah di Indonesia. Mereka pun akan membangun sebuah perusahaan. Adi yang akan mengurus perusahaan itu, karena sesuai dengan jurusannya. Sedangkan Rikas ikut membantu Adi dari belakang. Perusahaan mereka pun telah dibangun dan sudah mulai beroperasi. Usaha mereka semakin hari, semakin lancar. Mereka pun kini menjadi orang yang sukses dan memiliki banyak uang.

Kemudian mereka membentuk Organisasi tempat anak-anak pemulung. Mereka akan menyekolahkan dan mencukupkan semua keperluan anak-anak tersebut semampu mereka. Mereka  tidak ingin ada lagi anak-anak yang memulung. Mereka ingin semua anak-anak bisa sekolah dan bisa menjadi pemimpin-pemimpin di masa depan.

Janji Adi dan Rikas pun telah mereka tepati. Mereka telah mengumpulkan seluruh anak-anak pemulung seperti mereka dulu untuk disekolahkan. Mereka pun lega dan merasa senang. Mereka tidak menyangka kalau hal ini bisa mereka dapatkan. Dari kecil mereka merasakan kesusahan dan kini mereka telah berhasil dan sukses. Mereka pun tidak lupa mengucap syukur kepada Tuhan atas hal ini. Karena jika mereka hanya mengandalkan kekuatan mereka, maka hal ini tidak bisa mereka dapatkan.

 

SELESAI……..

Leave a Reply

Hubungi Kami

Jl. Karya No. 3 Hiliweto
Nias, Sumatera Utara - 22871
Telp./Fax. : 081397271726
E-mail : admin@sman1gido.sch.id
Website : www.sman1gido.sch.id